5 Jenis Nyawa yang Dipertaruhkan saat Meliput di Medan Peperangan

Medan peperangan itu sangat genting. Sebelum meliput berita di sana, amat diperlukan 5 jenis nyawa yang perlu dipertaruhkan untuk memastikan agar perjalanan bisa lancar hingga akhir. Hal-hal semacam ini juga sering diterapkan oleh wartawan Radar Lampung maupun dalam skala pemberitaan nasional. Memangnya apa saja kelima jenis nyawa tersebut?

Meliput di Medan Peperangan

Meliput di Medan Peperangan

1. Nyawa Diri Sendiri

Dalam meliput berita secara langsung di medan peperangan, harus siap mati. Terlebih lagi kalau meliput di medan yang tengah bergejolak peperangan. Arena di sana masih hangat dengan tembak-tembakan, bom-boman, dan lain sebagainya. Ketika gentar sedikit saja, nanti akan berpengaruh terhadap kualitas pemberitaan itu sendiri.

2. Nyawa Data atau Informasi yang Diambil

Kondisi dalam peperangan itu tidak bisa dikontrol. Anda bukanlah panglima perang, melainkan jurnalis. Saat terjun ke lapangan, maka siap-siap saja kehilangan informasi ketika pihak yang berlawanan menemukan tempat Anda. Oleh karena itu, jurnalis yang turun pada medan peperangan tidak hanya satu. Cara ini dilakukan agar peliputan berjalan dengan baik.

3. Nyawa Media Tempat Bernaung

Tidak sedikit media yang menaungi sepenuhnya para jurnalis yang bekerja di bawahnya. Oleh karena itu, reputasi media pun turut menaungi reputasi jurnalis tersebut. Coba bayangkan kalau sebuah media mengirim jurnalis, kemudian tertangkap. Akan tetapi media tersebut tidak ambil tindakan karena ketakutan. Pasti dalam waktu dekat media akan jatuh.

4. Nyawa Para Narasumber

Narasumber juga menjadi tanggungan para jurnalis maupun media. Meskipun tidak banyak yang melakukan hal ini. Namun¸ media semacam Radar Lampung melakukannya. Soalnya, pihak penyerang akan lebih brutal ketika melihat acara serangan demi serangan itu diliput ke media. Mereka punya hak otoritatif sendiri dalam medan peperangan.

5. Nyawa Keakuratan Data

Keakuratan data menjadi salah satu hal terpenting dalam proses peliputan di medan apa pun. Ketika dalam kondisi genting, para jurnalis yang turun harus yang benar-benar senior. Setidaknya, jurnalis tersebut harus bisa mengendalikan diri dalam situasi apa pun. Jadi, kejernihan pemikiran saat itu juga akan terjaga tanpa goyah sedikit pun.

Komunikasi antara media pusat dengan jurnalis di medan peperangan harus terhubung dengan baik. Medan peperangan tidak harus sebesar Palestina vs Israel. Bisa juga perang antara kapal asing yang mencuri ikan dengan warga setempat. Media daerah, seperti Radar Lampung dan media daerah lainnya kerap menemukan hal ini.